Rahasia Mencerdaskan Buah Hat

Ternyata ada beberapa cara unik yang bias dilakukan untuk merangsang supaya si kecil bisa tumbuh menjadi anak yang cerdas sehingga ia akan menjadi pintar di kemudian hari. Kecerdasan atau tingkat intelegensi (IQ) yang tinggi dari anak, pada umumnya dianggap merupakan keturunan dari orangtua yang juga mempunyai IQ tinggi. Akan tetapi, dari berbagai penelitian menunjukkan, bahawa kecerdasan tak hanya diturunkan dari orangtua saja, melainkan juga ada beberapa faktor yang memiliki keterkaitan yang erat.

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

Dua faktor yang menjadi pengaruh di antaranya adalah pola pengasuhan dan stimulasi yang baik. Jadi, pada waktu si kecil masih dalam usia emas, ketika kemampuan otaknya masih bisa menyerap informasi dengan sangat tinggi, yuk jangan sia-siakan masa ini! beberapa rahasia ini bisa membantu kecerdasan buah hati berkembang dengan optimal. Rahasia 1: Bicara, bicara, dan bicara. Mayoritas anak akan belajar satu kata baru dalam waktu minggu ketika mereka sedang berumur antara 18 dan 24 bulan. Dan dapat menyebutkan antara 50 sampai 100 kata pada waktu sudah berumur dua tahun.

Makin sering Mama mengajak si kecil berbicara, makin banyak juga kata yang bisa ia serap dan simpan pada memori otaknya. Para ahli memberikan contoh agar para orangtua untuk “menarasikan hari” mereka. Itu maksudnya untuk menceritakan kepada si batita apa saja yang sedang Mama lakukan selagi Mama sedang mengerjakannya. Ini merupakan sebuah cara yang sangat baik dalam menjelaskan bermacam-macam kata baru untuk si kecil sepanjang hari. Selain itu juga, Mama sudah mulai bisa untuk menambah koleksi buku untuk bahan bacaan si kecil. Jangan ragu untuk bersenang-senang sambil memakai berbagai suara yang berbeda untuk mengisi suara tiap karakter berbeda yang muncul pada buku dongeng favoritnya.

Pastikan si kecil sering untuk mendengarkan aliran perkataan yang stabil, tapi bukan berasal dari televisi. Percakapan yang berasal dari televisi terlalu cepat untuk telinga anak karena ia gunakan sebagai bahan belajar. Disamping itu dia juga tidak dapat untuk melakukan interaksi. Padahal anak membutuhkan mendengar percakapan, mereka juga butuh untuk melakukan interaksi dan bercakap-cakap sehingga dapat untuk memperkaya pengalaman mereka. Dengan mengajak si kecil berbicara menggunakan aliran percakapan yang konstan dan juga memakai beragam kosakata, Mama bisa membuat buah hati lebih siap untuk tahap belajar membaca, menulis, dan juga mengeja di kemudian hari.

Tanda Tanda Batita Siap Bicara

Ketika batita mulai tertarik dengan benda atau apa pun yang ada di sekelilingnya, itulah saat batita siap bicara. Kekhawatiran itu perlahan- lahan menyusupi benak Fira, ketika Arfi yang minggu depan berulang tahun ke-2 masih juga belum menunjukkan tanda-tanda bicara. Bukannya tak berkomunikasi, lo. Arfi sudah cukup memahami komunikasi dengan orangorang di sekitarnya.

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Misal, kalau Fira berkata, “Dek, tolong ambilkan ponsel Bunda,” maka Arfi segera tahu apa yang dimaksud dan mengambilkan ponsel Fira. Atau, kemarin setelah terjatuh, Fira bertanya, “Mana yang sakit?” Maka Arfi dengan segera menunjukkan siku kanannya yang sedikit tergores. Tapi kalau urusan bicara, nanti dulu. Palingpaling Arfi hanya akan merespons dengan “eh” atau “uh”. Waduh… Fira benar-benar bingung. Pernah sekali Fira menanyakan hal ini kepada dokter anaknya.

Si dokter malah menjawab dengan kelakar, “Mamanya bisa bicara, kan? Papanya bisa bicara juga? Ya sudah, nanti juga anaknya akan bicara…” Kalau dipikir-pikir, memang tidak ada keluarga mereka yang mengalami gangguan bicara, sih. Tapi namanya ibu, pastinya Fira agak cemas juga mengapa buah hatinya belum ngomong juga. Apa benar, karena Arfi anak lelaki, makanya bicaranya terlambat dibandingkan dengan anak perempuan yang seumur?

Bergantung Stimulasi

Para ahli mengatakan masalah anak laki-laki lebih lambat bicara daripada anak perempuan masih merupakan dugaan. Kalau menurut psikolog Ika Yuniar, jika pun ada perbedaan, sebenarnya relatif hanya dalam hitungan bulan dan sangat bergantung pada sedikit atau banyaknya stimulasi yang diberikan oleh lingkungan di sekitar anak.

Jadi, sebagai awalnya, orangtua tidak perlu resah dengan dugaan ini. “Lebih baik persiapkan diri untuk mendampingi si batita dengan komunikatif sehingga perkembangan bicaranya pun optimal,” saran Ika. Di usia batita, diharapkan seorang anak sudah mampu mengucapkan 20—50 kata, meskipun pengucapannya belum tepat atau belum sempurna.

Mama Papa pasti masih dapat menangkap maksudnya ketika batita mengatakan “mam” untuk makan, “num” untuk minum, atau “obing” untuk mobil. Ini pun bukan berarti si batita tergolong cadel. Memang kemampuan bicaranya baru sampai pada tahap tersebut. Masalah baru timbul ketika kita juga lingkungan di sekitar cenderung tidak menunjukkan pengucapan yang benar.

Sumber : pascal-edu.com

Memaksimalkan Pengasuh dan Tidak Kehilangan Peran Sebagai Orangtua

KONTROL MAMA PAPA

 Jika anak meniru perilaku yang kurang berkenan dari sang pengasuh, kita dapat mengingatkan pengasuh. Misalnya, pengasuh memiliki kebiasaan me nonton sinetron berjam-jam, Mama Papa bisa meminta padanya untuk menonton ketika anak tidur, karena dewasa ini banyak tayangan sinetron yang tidak edukatif. Akan lebih baik jika kita menyiapkan kegiatan untuk dilakukan pengasuh bersama anak saat kita bekerja. Ini bermanfaat untuk menghindari aktivitas yang kurang bermanfaat, seperti menonton TV tadi.

Luangkan waktu sebelum tidur malam untuk membuat susunan kegiatan (timetable) esok hari dan jangan lupa siapkan juga alat-alat penunjangnya. Dengan timetable, pengasuh akan lebih disiplin menjalankan perannya dan tentunya akan lebih terbantu dalam menghabiskan waktu bersama anak di rumah. Timetable ini juga bisa menjadi bahan diskusi antara ibu dengan anak terkait kegiatannya pada hari itu.

Untuk anak yang akan mengikuti ujian masuk universitas sebaiknya berikan ia pelatihan di kursus IELTS terbaik di Jakarta agar lulus dengan mendapatkan skor yang terbaik.

TETAP DEKAT DENGAN ANAK

Nah, untuk menjalin kedekatan dengan buah hati (yang telanjur dekat dengan pengasuhnya), Mama Papa perlu memiliki kemauan besar untuk mau terlibat dalam kegiatan anak. Jadilah “be here and now” saat bersama anak. Abaikan persoalan lain dan manfaatkan setiap detik yang berarti saat bersama anak. Jangan biarkan persoalan dalam pikiran merusak mood sehingga tanpa sadar kita jadi kurang sabar saat menghadapi tingkah anak.

Biasakan diri juga untuk membuat rencana kegiatan. Sering kali quality time terhambat oleh kebingungan kita akan melakukan kegiatan apa bersama anak, sehingga tak jarang anak akhirnya dibiarkan bermain sendiri atau kembali dipegang oleh pengasuh. Jadi, cobalah menyiapkan permainan, alat bermain, dan kegiatan yang menyenangkan bersama anak. Kalaupun kita hanya punya waktu di akhir pekan bersama anak, pastikan waktu tersebut dapat memberikan manfaat positif sebanyak-banyaknya bagi hubungan kita dan buah hati.

Libatkan anak dalam kegiatan sehari-hari orangtuanya. Saat menyiapkan sarapan, umpamanya, ajak anak menata meja. Percayalah, ada banyak kegiatan sederhana yang sebenarnya bisa dilakukan bersama anak tanpa perlu memusingkan definisi quality time itu sendiri, sebab setiap waktu bisa menjadi sangat berkualitas bagi anak. Jika Mama dan Papa harus berangkat kerja pagi-pagi sekali, bangunkan anak sebelum berangkat untuk sekadar menyapa dan mengobrol dengannya. Bahkan menurut pada pakar kesehatan, memandikan anak di pagi hari dengan air hangat memberikan lebih banyak manfaat bagi kesehatan anak.

Jadi tidak ada alasan untuk tidak sempat memandikan anak sebagai salah satu momen kebersamaan di pagi hari, sebab pola kebiasaan bangun dan tidur anak sebenarnya sangat ditentukan oleh kebiasaan yang dibentuk oleh orangtuanya. Saat di kantor, sempatkanlah waktu untuk menghubungi buah hati Mama dan Papa di rumah, minimal satu kali setiap hari. Sampaikan betapa kita sangat rindu padanya dan tak sabar untuk bisa segera bertemu. Hal ini akan menumbuhkan rasa berharga pada anak, bahwa ia dicintai oleh orangtuanya tak peduli sejauh apapun jarak memisahkan mereka.