Jari-Jari Cekatan Bag2

“Tidak harus menggunakan alat, seperti sendok atau garpu. Kita biarkan saja dia mengeksplorasi cara makan dengan tangan, barulah secara bertahap kita ajarkan menggunakan sendok atau garpu,” ujar Putri. Putri juga menyarankan orangtua untuk mengajari buah hatinya cara menuangkan air dari teko ke gelas.

Baca juga : toefl ibt jakarta

“Tentu saja, alat-alatnya harus terbuat dari bahan yang tidak mudah pecah, sehingga aman untuk anak,” tegasnya. Kegiatan sehari-hari lain yang menyenangkan untuk melatih motorik halus si kecil, misal, memakai kaus kaki, memakai sepatu tak bertali, memakai kaus atau celana sendiri, memakai jaket, memasukkan sabuk ke lubangnya, memakai bando, menggosok badan dengan sabun, menggosok kepala de ngan sampo. Kegiatan tersebut melatih si kecil menjadi cekatan, juga lebih mandiri. Stimulasi yang fun juga dapat dilakukan dengan cara bermain. Misal, menyusun balokbalok ataupun pasel.

“Pada tahap ini, batita mungkin masih tampak memaksakan untuk memasukkan po tongan gambar ke pola yang tidak cocok, namun tak perlu mengkritik anak. Sebaliknya, tunjukkan pola yang tepat, sambil tetap memberikan apresiasi atas apa yang telah dilakukan si kecil,” urai Putri. Mama Ayu bercerita bagaimana ia melatih motorik halus Abi, anak laki-lakinya, yakni dengan bermain congklak pada saat usia Abi 2 tahunan. “Banyak orang berkomentar, kok anak laki-laki diajarkan main congklak,” kenang nya. Tapi Ayu pantang mundur, ia tak bosan melatih Abi menjatuhkan satu demi satu biji congklak ke dalam lubangnya untuk kegiatan melatih motorik halus buah hatinya.

“Selain itu, Abi mendapat manfaat me ngenal angka sejak dini, karena setiap menjatuhkan biji, ia menyebutkan angkanya,” ujar Ayu. Ketika batita sudah tertarik dengan alatalat tulis, kita dapat memberinya buku gambar, papan tulis, atau bahkan beberapa bagian tembok di rumah. Untuk pemilih an alat tulisnya, pastikan yang aman bagi anak dan tidak mudah tertelan. Sekali lagi, kegiatannya juga harus berlangsung fun. “Dari beberapa kasus, justru anak meng – alami trauma terhadap pensil dan kertas, akibat orangtua memaksakan stimulasi menggunakan media atau cara tertentu.

Sumber : https://pascal-edu.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *