Restu Janggal Dari Marsekal

Panitia lelang pengadaan enam unit radar ground control interception (GCI) TNI Angkatan Udara menjadi bulan-bulanan protes sebagian besar perusahaan calon peserta tender, Kamis pekan lalu. Siang itu, panitia menggelar acara pemberian penjelasan (aanwijzing) tender pengadaan radar senilai US$ 174 juta (sekitar Rp 2,2 triliun) di Ruang Baranahan, Gedung D.I. Panjaitan, Kementerian Pertahanan.

Ketika memasuki sesi tanya-jawab, sejumlah perwakilan perusahaan memprotes spesifkasi teknis radar karena mengarah ke produk tertentu. ”Kenapa frekuensi hanya S band,” ujar Jannik Hjulgaard, Director Business Development Weibel Doppler Radars, perusahaan asal Denmark, seperti diungkapkan seorang peserta rapat. Utusan Weibel juga mempertanyakan spesifkasi fasilitas integrasi sensor radar dan peluru kendali yang dikunci dengan produk skykeeper. Ini teknologi yang terintegrasi dengan sistem saat ini dan kode programnya dikuasai Thales Raytheon Systems Company SAS, perusahaan Prancis yang juga ikut dalam tender.

Menurut peserta pertemuan itu, protes serupa dilayangkan Monsadak Jasw, perwakilan Spettechno Export dari Ukraina, dan Raul Hernandez Verjillo, Southeast Asia Business Development Director Indra dari Spanyol. Mereka menilai tender enam radar tiga dimensi yang dilengkapi kemampuan mengendalikan pesawat tempur sergap itu tidak wajar. Dalam waktu dekat, mereka akan menemui Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu untuk menyampaikan keberatan. Jannik Hjulgaard membenarkan hadir dalam pertemuan tersebut. Tapi ia enggan menjelaskan isi rapat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *