Tanda Tanda Batita Siap Bicara

Ketika batita mulai tertarik dengan benda atau apa pun yang ada di sekelilingnya, itulah saat batita siap bicara. Kekhawatiran itu perlahan- lahan menyusupi benak Fira, ketika Arfi yang minggu depan berulang tahun ke-2 masih juga belum menunjukkan tanda-tanda bicara. Bukannya tak berkomunikasi, lo. Arfi sudah cukup memahami komunikasi dengan orangorang di sekitarnya.

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Misal, kalau Fira berkata, “Dek, tolong ambilkan ponsel Bunda,” maka Arfi segera tahu apa yang dimaksud dan mengambilkan ponsel Fira. Atau, kemarin setelah terjatuh, Fira bertanya, “Mana yang sakit?” Maka Arfi dengan segera menunjukkan siku kanannya yang sedikit tergores. Tapi kalau urusan bicara, nanti dulu. Palingpaling Arfi hanya akan merespons dengan “eh” atau “uh”. Waduh… Fira benar-benar bingung. Pernah sekali Fira menanyakan hal ini kepada dokter anaknya.

Si dokter malah menjawab dengan kelakar, “Mamanya bisa bicara, kan? Papanya bisa bicara juga? Ya sudah, nanti juga anaknya akan bicara…” Kalau dipikir-pikir, memang tidak ada keluarga mereka yang mengalami gangguan bicara, sih. Tapi namanya ibu, pastinya Fira agak cemas juga mengapa buah hatinya belum ngomong juga. Apa benar, karena Arfi anak lelaki, makanya bicaranya terlambat dibandingkan dengan anak perempuan yang seumur?

Bergantung Stimulasi

Para ahli mengatakan masalah anak laki-laki lebih lambat bicara daripada anak perempuan masih merupakan dugaan. Kalau menurut psikolog Ika Yuniar, jika pun ada perbedaan, sebenarnya relatif hanya dalam hitungan bulan dan sangat bergantung pada sedikit atau banyaknya stimulasi yang diberikan oleh lingkungan di sekitar anak.

Jadi, sebagai awalnya, orangtua tidak perlu resah dengan dugaan ini. “Lebih baik persiapkan diri untuk mendampingi si batita dengan komunikatif sehingga perkembangan bicaranya pun optimal,” saran Ika. Di usia batita, diharapkan seorang anak sudah mampu mengucapkan 20—50 kata, meskipun pengucapannya belum tepat atau belum sempurna.

Mama Papa pasti masih dapat menangkap maksudnya ketika batita mengatakan “mam” untuk makan, “num” untuk minum, atau “obing” untuk mobil. Ini pun bukan berarti si batita tergolong cadel. Memang kemampuan bicaranya baru sampai pada tahap tersebut. Masalah baru timbul ketika kita juga lingkungan di sekitar cenderung tidak menunjukkan pengucapan yang benar.

Sumber : pascal-edu.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *