Gedung G dan Lapangan Place de La Tartane

Gedung G dan Lapangan Place de La Tartane

Dalam keluarganya, Zidane biasa dipanggil Yazid. Sejak kecil, ia sudah dicekoki ayahnya, pengawas gudang sebuah department store, soal pentingnya kerja keras. ”Ia mengajari kami bahwa seorang imigran harus bekerja dua kali lebih keras daripada orang lain dan tak boleh menyerah,” katanya, seperti dikutip The Guardian, April 2004. Dalam berbagai kesempatan, Zidane mengaku beruntung akhirnya bisa keluar dari La Castellane. ”Itu (tinggal di sana) mengajarkan tak hanya soal sepak bola, tapi juga kehidupan. Ada banyak anak dari keluarga miskin dan ras berbeda-beda. Orang-orang kadang harus berjuang untuk melewati hari,” ujarnya. ”Sepak bola adalah jalan termudah.”

Website : kota-bunga.net

Karena latar belakang keluarganya, kehebatan dan kebesaran Zidane ikut mengangkat martabat imigran di masyarakat Prancis. Bagi Douglas Gordon dan Philippe Parreno, pembuat film dokumenter Zidane: A 21st Century Portrait, Zidane adalah teladan di dunia kontemporer yang kerap menghadirkan krisis identitas. ”Banyak orang tercerabut dari akarnya dan harus berjuang mendapatkan pengakuan di tempatnya yang baru. Zidane adalah duta untuk mereka.” Saat Prancis menjadi tuan rumah Piala Eropa 2016, mulai Jumat pekan lalu hingga 10 Juli mendatang, nama Zidane niscaya akan kembali disebut-sebut. Kebesarannya bahkan masih memikat sponsor. Perusahaan telekomunikasi Inggris, Orange, menjadikannya ikon dalam iklan untuk turnamen itu.

Pada saat yang sama, di La Castellane, jejaknya justru menipis bersama runtuhnya Gedung G dan lapangan La Tartane. Manu Daher menyebut tempat itu seperti sudah tidak ada hubungan dengan Zidane. ”Seluruh keluarganya sudah keluar dari kompleks ini. Teman-teman masa kecilnya juga ikut pindah,” katanya. ”Hanya orangorang yang tidak punya pilihan yang bertahan tinggal di sini. Tapi, jika ada kesempatan, semua orang ingin keluar dari La Castellane.” Sepeninggal Zidane, La Castellane tak menjadi lebih baik. Melimpahnya pendatang baru justru membuat daerah itu kian sesak dan menjadi lahan subur tumbuhnya geng baru. Gelombang baru pendatang juga membuat angka pengangguran terus menjulang. ”Yang menjadi korban adalah anakanak dan remaja, yang terjebak dalam situasi yang tidak kondusif,” ujar Lydie Marchi, koordinator acara seni budaya di La Castellane, kepada Tempo, akhir Mei lalu.

Namun nama Zidane tak benar-benar hilang dari sana. Ia masih menjabat presiden kehormatan klub Nouvelle Vague, yang menampung anak-anak La Castellane. Farid, kakak Zidane yang menjadi pelatih di klub tersebut, melukiskan peran tak langsung saudaranya itu. ”Ketika Anda bilang berasal dari La Castellane, orang-orang biasanya takut,” katanya. ”Kemudian, ketika Anda menjelaskan bahwa tim ini dipimpin Zidane, mereka biasanya langsung menunjukkan rasa hormat.” Zizou kini bermukim di Madrid, bersama istrinya, Veronique, dan empat anaknya, Elyaz, Theo, Luca, dan Enzo. Tapi ia tak pernah melupakan tempat masa kecilnya itu. ”Setiap kali memikirkan dari mana saya berasal, saya masih bangga tentang siapa diri saya: pertama-tama, seorang Kabylie dari La Castellane, lalu seorang Aljazair dari Marseille, kemudian seorang Prancis,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *